Tuesday, November 5, 2013

PERIZINAN USAHA PEMBUDIDAYAAN IKAN



Pelayanan merupakan tugas utama dari instansi pemerintah yang bertujuan untuk menggerakan perekonomian Indonesia supaya kesejahteraan masyarakat Indonesia meningkat dan merata. Dengan tujuan tersebut tentunya diperlukan kinerja yang baik dan pelaksanaannya dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan mangacu terhadap peraturan yang telah ditetapkan.
Perizinan Usaha Pembudidayaan Ikan merupakan salah satu unit kerja Direktorat Perikanan Budidaya yang mempunyai tugas untuk menerbitkan Surat Izin Pemasukan Ikan Hidup, Rekomendasi Pengeluaran Ikan Hidup, Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan (SIKPI) di Bidang Pembudidayaan Ikan, Rekomendasi Pembudidayaan Ikan Penanaman Modal (RPIPM), dan Rekomendasi Pengunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA).
Setiap tahunnya Perizinan Usaha Pembudidayaan Ikan telah menerbitkan cukup banyak dokumen izin, dan salah satu dokumen yang paling banyak diterbitkan pada setiap tahun adalah dokumen izin impor. Data penerbitan dokumen izin dapat dilihat pada tabel berikut yang manyajikan data penerbitan dokumen ijin kurun waktu 2010 – 2013 :
Tabel Jumlah Pelayanan Usaha Pusat 2010-2013
*tahun 2013 :per Januari sd Agustus
Tahun / JenisIzin
Impor
SIKPI
RPIPM
Ekspor
RPTKA
Jumlah
2010
80
20
2
2
-
104
2011
72
27
2
-
-
101
2012
70
20
2
-
3
95
2013
39
10
1
-
3
52
Jumlah
261
77
7
2
6
353
Sumber : Data Perizinan Usaha Pembudidayaan Ikan Pusat per agustus 2013
Dari tabel diatas terlihat jumlah dokumen ijin pada setiap tahun dengan setiap jenis dokumen ijin yang telah diterbitkan. Pada tahun 2010 sampai 2013 akumulasi Surat Izin Pemasukan Ikan Hidup sebanyak 261 dokumen dan tercatat pada tahun 2010 surat izin tersebut lebih banyak diterbitkan dibandingkan tahun-tahun yang lainnya. Hal tersebut dapat menjadi indikator bahwa pada tahun 2010 kegiatan impor ikan cukup banyak dilakukan. Begitu pula dengan Rekomendasi Pengeluaran Ikan Hidup pada tahun 2010 diterbitkan sebanyak 2 surat izin, dengan data tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ekspor berjalan dengan baik. Untuk tahun yang lainnya tidak tercatat ada surat izin yang diterbitkan.
Untuk penerbitan Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan (SIKPI) di Bidang Pembudidayaan Ikan pada periode tahun 2010 – 2013 tercatat sebanyak 77 dokumen yang telah diterbitkan, dan pada tahun 2011 surat izin tersebut diterbitkan lebih banyak dibandingkan tahun-tahun yang lainnya yaitu sejumlah 27 surat izin yang diterbitkan.
Surat Rekomendasi Pembudidayaan Ikan Penanaman Modal (RPIPM) pada setiap tahunnya tercatat jumlah surat izin yang diterbitkan hampir sama yaitu sebanyak 2 surat izin. Berbeda dengan Surat Rekomendasi Pengunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) baru diterbitkan pada tahun 2012 dan 2013 sebanyak masing-masing satu surat rekomendasi.
Untuk mempermudah analisis peningkatan data surat izin yang telah diterbitkan dapat melihat gambar grafik dibawah ini :

 
 Gambar 1. JumlahPelayanan Usaha Pusat 2010-2013

Apabila melihat dari target Indikator Kinerja tahun 2010-2014 bahwa target sampai dengan tahun 2013 adalah 580 layanan maka capaian indikator pelayanan usaha perikanan budidaya adalah 90,69%. Dengan hasil yang telah diperoleh menunjukkan bahwa pelayanan yang telah dilaksanakan cukup baik dan dapat membantu untuk menggerakkan perekonomian Indonesia.

Wednesday, October 9, 2013

CEPAT, MUDAH DAN MENGUNTUNGKAN DALAM MELAKUKAN BUDIDAYA IKAN LELE



Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan

 Budidaya ikan lele merupakan usaha yang  mudah dilakukan dan cukup menjanjikan dalam menghasilkan pundi-pundi rupiah. Permintaan pasar terhadap ikan lele saat ini cukup  tinggi dan hal tersebut menjadi peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan keuntungan dari usaha budidaya ikan lele. Permintaan ikan lele yang cukup tinggi tersebut dijadikan inspirasi  oleh ibu-ibu pengurus yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan dalam memutuskan untuk melakukan usaha budidaya ikan lele di Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti.
Dalam melakukan budidaya ikan lele, yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jendral Perikanan Budidaya. DJPB  telah memberikan paket Pengembangan Usaha Berbasis Kelompok Masyarakat berupa bantuan modal kerja berupa bak kolam ikan lele, benih ikan lele, pakan ikan lele dan barang lainnya.
Tebar benih ikan lele dilaksanakan pada tanggal 18 Juni 2013 yang dihadiri oleh Ibu Presiden RI yaitu Ibu Ani Yudhoyono, Ibu Wakil Presiden yaitu Ibu Herawati Boediono,  Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan yaitu Ibu Inggrid Mutiara Sutardjo beserta ibu-ibu Sikip. Pada saat tebar benih ikan terlihat antusiasme jajaran ibu negara yang mengunjungi setiap bak kolam ikan lele. Pada kesempatan tersebut Ibu Ani Yudhoyono dan Ibu Herawati Boediono menyempatkan diri secara simbolis untuk memberi pakan ikan lele.


Proses bududaya ikan lele berlangsung selama tiga bulan dan benih yang telah ditebar berhasil dipanen pada tanggal 9 September 2013. Pada saat panen hadir ketua Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Ibu Chandra, Sekretaris Direktorat Jenderal PB Bapak Abduh Nurhidayat, Direktur Usaha Budidaya Bapak Tri Hariyanto dan dihadiri oleh jajaran pengurus yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan.
Sebelum panen dilaksanakan terdapat beberapa susunan acara yang diikuti oleh seluruh undangan yang hadir, diantaranya adalah sambutan dari ketua Yayasan yang mewakili jajaran pengurus menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mensukseskan usaha budidaya lele. Sambutan lainnya dari Sekretaris Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Bapak Abduh Nurhidayat, pada sambutanya beliau mengungkapkan bahwa ikan lele memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dan menjanjikan, sehingga patut untuk dijadikan salah satu pilihan usaha untuk mensejahterakan masyarakat, Selain itu nilai gizi dari ikan lele tersebut cukup tinggi dan dapat membuat badan menjadi sehat dan kuat.
Proses panen dilakukan secara simbolis oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktur Usaha Budidaya dan Jajaran pengurus yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan.
Panen ikan lele dilakukan pada enam bak kolam lele dan pada setiap kolam menghasilkan +/- 500 kg ikan lele, sehingga total hasil panen mencapai 3 ton ikan lele. Untuk mempermudah pemasaran pihak Yayasan mengundang beberapa pembeli potensial yang dapat membeli langsung ditempat hasil panen ikan lele. Harga jual perkilo ikan lele adalah Rp. 14.000, sehingga total hasil jual ikan lele yang telah dipanen sebesar +/- Rp. 42.000.000,-.
Dengan besarnya hasil jual ikan lele lebih memotivasi Pembudidaya Ikan lele Yayasan untuk meningkatkan produksi ikan lele pada panen selanjutnya. Selain itu dengan budidaya ikan lele diharapakan dapat meningkatkan pula kesejahteraan anggota pembudidaya ikan di Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan.



Wednesday, September 4, 2013

Engkau yang malam ini hatinya membutuhkan penguatan,
bisikkanlah ini sebagai doamu …

Tuhanku Yang Maha Pengasih,

Telah lama rasanya aku tertawa dalam kesedihan untuk menggembirakan orang lain, agar mereka memperlakukanku dengan lebih ramah.

Telah letih aku mencari-cari cara untuk menyenangkan orang lain yang tak menghargaiku.

Telah bosan aku mendengar diriku yang meninggikan nada bicaraku, agar aku terdengar bersemangat mendengar celoteh kesombongan mereka.

Sesungguhnya, aku telah letih sekali untuk tetap bersemangat menjadi pribadi yang diperhatikan hanya jika diperlukan.

Tuhanku Yang Maha Lembut,

tabahkanlah hatiku yang rapuh ini,

agar aku tetap meyakini yang kutahu sebagai yang benar,
ikhlas melakukan yang kutahu harus kulakukan,
sabar menghadapi orang-orang yang sulit,
dan agar aku tegar berupaya menyelesaikan masalah,

agar aku sampai di lembah hijau pembahagiaanku.

Tuhan, ... hatiku yang letih ini rindu istirahat dalam kedamaian.

KekasihMu yang kecil ini tidur dulu ya Tuhan?

Belailah aku dalam lindungan kasih sayangMu.

Aamiin

-------------

Semoga kebersamaan kita dalam doa ini menjadi penyegera bagi terjawabnya kerinduan-kerinduan hati Anda.

Semoga dengan terbukanya fajar esok pagi, Tuhan mempertemukan Anda dengan kesempatan-kesempatan segar untuk mengunduh rezeki yang baik dan lancar.

Aamiin

Mario Teguh - Loving you all as always

Tuesday, August 13, 2013

PENDAMPINGAN AKSES PEMBIAYAAN PERBANKAN



 Indonesia mempunyai potensi perikanan yang sangat besar dan perlu untuk diberdayakan sehingga dapat meningkatkan perekonomian negara Indonesia. Dalam memanfaatkan potensi yang ada diperlukan pembangunan dan pengembangan usaha yang dapat menciptakan peningkatan ekonomi masyarakat Indonesia. Untuk melaksanakan pembangunan usaha disegala bidang tentunya bukan hanya konsep saja yang diperlukan, faktor yang paling penting dalam menjalankan hal tersebut adalah investasi yang cukup dalam memfasilitasi pembangunan usaha tersebut. Investasi yang diperlukan dalam pembangunan usaha berhubungan erat dengan pembiayaan yang pada saat lebih banyak diberikan oleh Perbankan.
 
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Usaha memberikan perhatian penuh terhadap akses pembiayaan perbankan untuk dapat di manfaatkan masyarakat dalam memulai atau mengembangkan usahanya dibidang perikanan budidaya. Untuk mensosialisasikan manfaat dari pembiayaan Perbankan Direktorat Usaha, Subdit Investasi dan Permodalan melakukan kegiatan Pendampingan Akses Pembiayaan Perbankan dalam mendukung Industrialisasi Perikanan Budidaya di Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 24 Juli 2013 di Semarang.

Kegiatan dimulai dengan sambutan dari Kadis Jawa Tengah yang mengemukakan Agar kesempatan bantuan demfarm dimanfaatkan oleh pembudidaya dan mitra untuk meningkatkan produksinya, sampai dengan saat ini Dinas KP Provinsi Jateng belum mampu memenuhi  target produksi yang telah ditetapkan oleh pusat.  Saat ini produksi baru mencapai  50% dari yang ditargetkan. Kadis Jawa Tengah mengutarakan pula bahwa dukungan peningkatan produksi dari BBPBAP Jepara sangat besar yaitu untuk mengaktifkan kembali tambak- tambak idle. Selain itu pabrik pakan, suplier dan masyarakat diharapkan dapat ikut mendukung program ini. 

Kadis Jawa Tengah pada sambutannya mengungkapkan pula bahwa Perbankan diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas penyaluran pembiayaan kepada pembudidaya, sehingga diharapkan pembudidaya dapat meningkatkan produksinya.Diharapkan juga dapat menyamakan persepsi antara pemerintah, perbankan dan pembudidaya.

Direktur Usaha Bapak Tri Hariyanto dalam sambutannya  mengemukakan bahwa 0,4 % produksi sudah tercapai pada Tahun 2013 dan mengharapkan supaya pertemuan ini bisa mendapatkan sinergitas antar stake holder, agar demfarm di Jateng bisa berhasil.

            Pada kegiatan tersebut dihadirkan tiga narasumber yang mempresentasikan teori dan data yang mendukung program akses pembiayaan Perbankan. Narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut adalah Kadis Jawa Tengah, Direktur Prasarana dan Sarana Budidaya dan Kepala Divisi Bisnis Program dan Kemitraan, BRI.

           Narasumber pertama yaitu Kadis Jateng, Bapak Lalu Safriyadi  mempresentasikan  potensi perikanan didareah Jawa Tengah yang mempunyai tambak dengan Luas 44.239 ha dengan hasil produksi  sebesar 115.388 ton, dan sebanyak 60 % tambak kurang produktif atau belum terkelola dengan baik, sehingga perlu revitalisasi perikanan tambak. Untuk mendukung hal tersebut dana APBN diharapkan dapat mendukung tambak dan dana  APBD untuk budidaya lainnya Jateng selalu mendapatkan APBN yang besar,  tetapi capaian produksi selalu rendah (urutan 10 untuk skala nasional).  Usaha budidaya di Jateng masih skala tradisional, maka KKPE sangat dibutuhkan.

       Narasumber kedua yaitu Direktur Prasarana dan Sarana Budidaya mempresentasikan mengenai kegiatan Demfarm bertujuan untuk  menyediakan infrastruktur yang memadai dalam pelaksanaannya bertahap. Diawal program ini produksi di Provinsi Banten dan Provinsi Jabar memperoleh hasil yang  baik dan sangat pesat karena dibantu oleh perbankan (BRI), membangun pola kemitraan  dengan melibatkan perbankan dan menggunakan penerapan teknologi close system (klusterisasi), dalam rangka meminimalisir penyebaran penyakit.

         Disampaikan pula perlunya  akselerasi penyiapan demfarm meliputi lokasi, lahan, pokdakan,mitra di lapangan (kab/kota masing-masing) yang diperlukan untuk mencapai sasaran demfarm yaitu pemilihan lokasi yang baik untuk budidaya dari sekitar 80 ha lahan yang tersedia,  Mitra dapat menyediakan benih, pakan dan biaya operasional dengan baik dan kontinue.  

         Dalam melaksanakan program Demfarm diperlukan Rencana Aksi meliputi Sosialisasi kepada Provinsi yang mendapatkan alokasi dana Demfarma yaitu Jateng, Jatim, Lampung, NTB, Sulsel, Sumut (6 kabupaten). Hal tersebut untuk mengefisienkan waktu pelaksanakan kegiatan program Demfarma tersebut.

    Provinsi Jawa Tengah mempunyai  alokasi lahan seluas 180 ha dan baru ada lahan 157 ha yang telah dialokasikan sehngga diperlukan 23 ha lagi untuk pemenuhan alokasi program Demfarm tersebut.

     Narasumber ketiga yaitu Kepala Divisi Bisnis Program dan Kemitraan, BRI (Bapak. Teten) mengungkapkan bahwa pembiayaan di sektor hulu, pada dasarnya menarik.  Revitalisasi 2012-2013 lebih ke pengembangan produksi, karena 70 % produksi di eksport.  Program KKP plus mitra, petambak, perbankan, bisa dikembangkan dan diharapakan dapat  berkelanjutan dan menguntungkan.

     Dukungan dari pemerintah saat ini terbatas tetapi bisa berjalan dengan baik.  Bapak Teten menyampaikan bahwa BRI cabang pada tanggal 23 kemarin melakukan diskusi dengan BBPBAP Jepara. BBPBAP Jepara melakukan sosialisasi ke AO tentang budidaya udang tambak, sehingga AO bisa paham tentang perikanan dan lebih memahami mengenai bisnis di lapangan, dengan pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa bisnis perikanan dapat memberikan manfaat dan keuntungan yang menjanjikan.

          Peranan mitra selain membantu dalam penjualan (trading),  juga berperan sebagai mitra on farm.  Mitra tersebut harus dapat dengan mudah diakses oleh BRI.

        Untuk Kegiatan Demfarm akses kredit menggunakan kredit usaha rakyat(KUR), karena KKP-E hanya menyediakan dana sebesar Rp. 50-100 juta saja, dan tersebut tidak cukup untuk operasional. Mitra bersama-sama pembudidaya menyiapkan aspek manajemen teknis, persiapan lahan, maksimal kredit yang bisa diakses rp.  500 juta. Dana tersebut dapat diberikan pihak BRI dengan catatan data lokasi yang sudah ditentukan, dan berapa kebutuhan indikatifnya, sehingga AO bisa cukup waktu melakukan penilaian, mudah-mudahanan semua lokasi dapat disetujui untuk pengucuran kredit. Tidak hanya kegiatan Demfarma saja yang dapat dipenuhi akses kreditnya, untuk kegiatan lainnya pun BRI siap untuk memberikan akses kredir t asalkan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.

       Dalam hal ini pihak BRI menyampaikan bahwa keunggulan pembiayaan yang diberikan Perbankan dalam usaha perikanan budidaya adalah jumlah pembiayaan dan suku bunga yang ringan.

         Sesi terakhir ditutup oleh tanya jawab dan diskusi, pada sesi tersebut sebagian besar mengungkapkan mengenai kebutuhan akses kredit untuk mempercepat pelaksanakan kegiatan budidaya ikan. Pada tahap diskusi masih terdapat beberapa pertanyaan mengenai persyaratan yang harus dipenuhi dalam memperoleh akses kredit Perbankan dikarenakan hal tersebut masih dirasakan sulit dilakukan oleh banyak masyarakat.

         Dalam masalah teknis sesi diskusi membicarakan mengenai Sarana produksi yang diperlukan dalam proses pembudidayaan ikan. Dijelaskan mengenai tata cara pengajuan Srana Produksi ke Direktorat Prasarana dan dijelaskan pula bahwa barang yang akan diberikan untuk mendukung kegiatan budidaya ikan memiliki spek barang yang bagus.

          Dengan diadakan kegiatan Pendampingan Akses Pembiayaan Perbankan diharapkan dapat terjalinnya kerjasama antara KKP dan Pihak Perbankan, sehingga akses dana perbankan untuk mendukung kegiatan budidaya ikan dapat dilakukan lebih baik dan tujuan KKP untuk meningkatkan produksi perikanan dapat tercapai. Dengan peningkatan produk perikanan dapat berdampak terhadap peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. (Syati Saptaria).